AKHLAK DAN IBADAH PUASA
(Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Al-Maidah 8).
Adakah korelasi antara akhlak dalam Islam dengan ibadah puasa ramadhan. Pertanyaan itu muncul beberapa waktu yang lalu, ketika panitia ta’mir ramadhan memberikan tema tersebut kepada penulis untuk disampaikan pada tausiah ramadan. Judul tersebut diberikan tentu punya alasan, karena tausiah disampaikan saat suasana bulan ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci dan bulan membersihkan diri dari segala dosa, sehingga selama bulan ramadhan kaum muslimin dididik membiasakan berperangai baik dan menjauhi dari perangai yang buruk. Dengan kata lain, puasa akan menjadikan pelakunya memiliki akhlak yang mulia dan terhormat.
Kata akhlak sering diartikan dengan kelakuan atau budi pekerti. Kadang dapat juga diartikan dengan tabiat, perangai atau kebiasaan. Kata akhlak sering ditemukan dalam hadits-hadits nabi saw, dari sekian hadits yang membicarkan tentang akhlak salah satunya yang sangat popoler dan dihafal oleh banyak orang adalah hadits riwayat Malik, Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Akhlak dalam ajaran agama tidaklah sama dengan etika. Kalau etika hanya terbatas pada sopan santun diantara sesama manusia dan yang menjadi objek kajiannya hanya yang berkaitan dengan tingkah laku secara lahiriah. Sedangkan akhlak lebih luas maknanya dan mencakup beberapa aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkungan seperti akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan dan akhlak terhadap benda-benda tak bernyawa.
Lalu apa hubungan antara akhlak dalam Islam dengan bulansuci ramadhan seperti judul yang diberikan oleh panitia ta’mir ramadhan kepada penulis. Tentu ada korelasinya dan menarik untuk dibicarakan. Dalam pelaksanaan puasa terdapat nilai-nilai yang membawa orang yang berpuasa tersebut memiliki akhlak yang terpuji, mulia dan terhormat.
Al-Akhlak al-Mahmudah (akhlak yang terpuji) itulah kata kunci yang patut diberikan kepada orang yang melaksanakan puasa sesuai dengan ajaran Islam. Puasa tidak hanya meninggalkan makan dan minum serta hubungan suami istri di siang ramadhan, tetapi juga menjaga dari segala yang membatalkan pahala puasa. Menjaga lidah dari dusta, ghibah (menceritakan keburukan orang lain),an-namimah (adudomba), sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat (an-Nazharu bil syahwati).
Menjaga lidah dari perkataan kotor sangat ditekankan ketika berpuasa, artinya orang yang sedang menjalani puasa ia harus menjaga lidahnya dari perkataan yang tidak pantas diucapkan atau bahkan diam saja. Ini yang disebut oleh rasulullah puasa adalah Junnah ( benteng) karena itu jangan berkata-kata kotor (rafats) dan kasar, jika ada orang yang menyerang dan mencacimu hendaklah kamu katakan aku sedang berpuasa.
Selain menjaga lidah,berpuasajuga menahan anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa, seperti menjaga tangan atau kaki dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Demikian pula menahan perut dari hal-hal yang syubhat (yang tidak jelas halal dan haramnya) tatkala berbuka, sebab tidak ada gunanya berpuasa dengan menahan dari memakan makanan yang halal ke dalam perutnya, tetapi saat berbuka lalu memakan makanan atau benda diharamkan oleh agama atau memakan makanan yang diperoleh melalui cara yang haram. Suatu ketika Rasulullah Saw didatangi oleh dua orang wanita yang sedang berpuasa. Kondisi keduanya hampir pingsan karena menahan lapar dan haus yang tidak tertahankan. Mereka meminta kepada Rasul untuk berbuka. Rasul lantas menyuruh orang membawa wadah kemudian berkata kepada dua wanita itu, muntahkanlah apa yang kalian makan. Seketika itu juga keduanya memuntahkan dari mulutnya darah dan daging segar. Orang-orang yang berada disekitarnya heran menyaksikan peristiwa aneh itu. Kemudian Rasul menjelaskan bahwa kedua perempuan itu memang sedang berpuasa dari hal yang dihalalkan oleh Allah, akan tetapi berbuka dengan makanan yang diharamkan Allah dan yang satunya lagi menggunjing orang lain.
Puasa juga mendidik orang meyakini bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah Swt.Perintah Allah sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 183, tertuju kepada orang-orang yang beriman. Karena itu setiap datangnya bulan ramadhan, maka orang-orang beriman membuktikan keyakinannya terhadap Allah Swt. Meski ia tidak melihat Allah, tetapi ia yakin bahwa Allah melihatnya. Dalam hal keyakinan kepada Allah tersebut, suatu hari Imam Ali pernah ditanya oleh Zi”lib Al-Yamani, apakah anda pernah melihat Tuhan? Saya tidak menyembah sesuatu yang tidak saya lihat. Jawab Ali.Bagaimana engkau melihat Tuhan?Tanyanya lagi. Selanjutnya Ali menjawab, Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata, tetapi dapat dijangkau oleh pandangan hati dan keimanan.
Keimanan membuat orang merasa dekat dengan Allah, karena itu orang yang sedang berpuasa merasakan kedekatan tersebut sehingga ia merasa sedang diawasi. Ia menyakini tidak ada sedikitpun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah. Meski ia berada ditempat yang jauh oleh pandangan manusia dan dapat saja bersembunyi, namun ia tetap meyakini bahwa ia tidak bisa bersembunyi dari pengetahuan Allah. Karena itu ibadah puasa akan melahirkan sifat jujur dan disiplin bagi pelakunya. Jika imsak (waktu untuk memulai puasa) sudah tiba, makanan maupun minuman yang sedang dinikmatinya meski belum habis, saat itujuga kegiatan makan dan minumpun harus dihentikan. Begitu juga saat menjelang waktu berbuka puasa, jika beduk pertanda waktu berbuka belum dibunyikan, maka tidak sedikitpun minuman yang masuk kemulutnya, meski tenggorokannya kering dan terasa haus.
Dengan demikian puasa yang dilaksanakan oleh orang yang beriman selama sebulan penuh, merupakan sebuah latihan untuk menempa dan mendidik manusia agar menjadi orang yang berakhlak mulia, berperangai santun dan rendah hati, budi pekerti halus, jujur, amanah serta istiqamah dalam beribadah. (14 Ramadhan 1440 H. tfk)